Kenangan Pasca Masyumi Dibubarkan “sebuah catatan tentang NATSIR”

 

Gabbarberita.com – Mohammat Natsir dilahirkan di Alahan Panjang, Sumatera Barat, pada 17 Juli 1908. Ia wafat di Jakarta pada 6 Februari 1993. Mengenai pemikiran dan jejak perjuangannya, sudah banyak ditulis oleh pakar dalam maupun luar negeri. Saya mengenal nama Natsir dari ayah saya, M. Mursjid Nawawi (1930-1989), seorang aktifis Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Kabupaten Bekasi. Dalam oborolan santai dengan ibunda Siti Wardah Fudholi (1935-2011), atau dalam obrolan dengan para koleganya –yang kadang saya curi dengar–ayah saya menyebut nama Natsir dan tokoh-tokoh seperti Prawoto Mangkusasmito, Hamka, dan Sjafruddin Prawiranegara dengan nada penuh hormat.

 

Pada suatu hari besar Islam di Masjid Al-Muttaqin, Buni Asih, Cikarang, panitia mengundang Hamka sebagai penceramah. Saya ingat peristiwa di permulaan tahun 1960-an itu, karena sebelum ke tempat acara, Hamka lebih dulu singgah di kediaman kakek saya, KH M. Fudholi. Saya tidak tahu apa alasannya, dalam pertemuan di rumah kakek, ayah mengajak saya. Saya yang masih ingusan dan belum mengerti apa-apa cuma ingat kakek saya dengan Hamka ngobrol dalam bahasa Arab. Dan sesudah rezim Sukarno tumbang, para tahanan politik dibebaskan oleh penguasa baru, Jenderal Soeharto. Menandai pembebasan itu, diadakan tasyakkur di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jika tidak salah ingat, tasyakkur di Al-Azhar itu dilaksanakan pada 1966.,Para pendukung Partai Masyumi berbondong-bondong ke Masjid Al-Azhar, termasuk ayah dan kawan-kawannya dari Cikarang.

 

Lagi-lagi saya tidak tahu alasan ayah mengajak saya yang masih bocah menghadiri tasyakkur. Padahal di atas saya ada dua kakak yang tentu sudah lebih mengerti masalah, ketimbang saya. Walaupun yang akan berangkat hanya saya dan ayah, sehari sebelum berangkat, ibu sibuk mempersiapkan bekal. Beliau membikin lontong isi dalam jumlah yang cukup banyak. “Sekalian untuk rombongan,” kata ibu. Suasana malam itu mengingatkan saya pada kesibukan menjelang lebaran. Ayah dan ibu, menyiapkan bekal dengan riang gembira seraya terus bercerita tentang kehebatan Pak Natsir dan Masyumi.

 

Dengan truk yang ditutupi terpal, rombongan dari Cikarang berangkat ke Al-Azhar. Di Masjid Agung itu, jamaah melimpah ruah. Rombongan kami tidak bisa lagi masuk ke dalam masjid. Kami menyimak acara di tangga masjid. Saya tidak ingat, lebih tepatnya tidak mengerti, apa yang dipidatokan oleh tokoh-tokoh itu. Yang pasti, tasyakkur di Al-Azhar makin mematrikan nama Natsir dan Masyumi dalam ingatan saya.

 

Sesudah tasyakkur di Al-Azhar, ada lagi tasyakkur di Masjid Agung Karawang. Lagi-lagi ayah mengajak saya hadir di acara tersebut. Jika tidak salah ingat, pada tasyakkur di Karawang itu hadir antara lain Mochtar Lubis dan Buya Hamka. Acara ditutup dengan bersalam-salaman, dan saya berhasil menyalami Buya Hamka!

 

“Prestasi” itu kelak ditambah oleh keberhasilan saya menyalami Natsir. Kisahnya, pada suatu hari Pak Hasjim Ahmad yang rumahnya dekat dengan rumah orang tua saya, menikahkan putrinya. Beberapa hari menjelang acara, beredar kabar bahwa Pak Natsir akan hadir pada acara tersebut untuk memberi nasihat perkawinan. Masyarakat percaya, karena Hasjim Ahmad adalah tokoh Masyumi yang pada pemilihan umum 1955 terpilih menjadi anggota, dan kemudian menjadi Ketua DPRD Kabupaten Bekasi.

 

Mendengar kabar Pak Natsir mau datang, saya menyiapkan diri. Nah, pada hari “H”, dengan membolos dari sekolah, saya mengendap-endap ke rumah Pak Hasjim Ahmad. Ketika sebuah mobil berhenti, dan dari pengeras suara terdengar ucapan “Selamat datang Pak Natsir,” saya segera menerobos ke depan untuk menyongsong kedatangan Pak Natsir. Alhamdulillah, “perjuangan” saya tidak sia-sia. Saya berhasil mencium tangan Pak Natsir!

 

Kisah “heroik” itu saya ceritakan kepada ayah dan ibu. Keduanya tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepala.

 

Ghirah al Masyumiyah Sebagai aktifis, ayah saya suka membaca. Koleksi bukunya lumayan banyak. Dari koleksi ayah saya itulah saya mulai membaca karya pikir tokoh-tokoh Masyumi, antara lain Capita Selecta, Fiqhud Da’wah, dan Marilah Shalat (M. Natsir), Merantau ke Deli, Menunggu Bedug Berbunyi, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (Hamka), Documenta Historica (Osman Raliby), Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad (Munawar Chalil), dan Mujahid Da’wah (Isa Anshary).

 

Sebagai Pembantu Perwakilan Yayasan Perjalanan Haji Indonesia (PHI), ayah secara rutin mendapat kiriman majalah Kiblat. Saya yang sudah hafal jadual kedatangan majalah itu, kadang-kadang mendahului ayah membacanya. Untuk hal ini, kadang-kadang ayah terkesan kurang suka didahului membaca oleh saya.

 

Di majalah Kiblat itulah saya bertemu dengan tulisan tokoh-tokoh Masyumi seperti M Natsir, dr Abu Hanifah, Mr. Mohamad Roem, M. Yunan Nasution, Anwar Harjono, dan E. Z. Muttaqien. Sementara itu, kakek saya H. Nawawi bin H. Sadih (1910-1987), berlangganan majalah Pandji Masjarakat. Jika ke rumah kakek, saya membaca Pandji, dan bertemu dengan Hamka yang rutin menulis di rubrik “Dari Hati ke Hati.” Ayah juga memiliki dua jilid buku karya Bung Karno, Dibawah Bendera Revolusi (DBR). Dengan membaca DBR dan Capita Selecta, saya “menikmati” debat Sukarno-Natsir yang luar biasa itu. Pengenalan terhadap pemikiran para tokoh itu diperkuat dengan ghirah al Masyumiyah di kampung saya yang menyebabkan sering hadirnya tokoh-tokoh Masyumi di dalam berbagai acara keagamaan.

 

Pada 1968, lantai pertama Masjid Al-Jihad di Cikarang diresmikan pemakaiannya ditandai dengan tabligh akbar pada malam hari dengan muballigh tokoh Masyumi Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Saya masih ingat, rumah orang tua saya menjadi tempat transit Pak Sjaf. Di awal Orde Baru itu, sebagai bekas tahanan politik rezim Orde Lama Sukarno, nama bekas Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sjafruddin Prawiranegara sangat harum.

 

Maka, pengamanan terhadap Pak Sjaf, sangatlah ketat. Rumah ayah saya pun dijaga ketat. Tidak sembarangan orang bisa mendekat. Siang harinya, untuk pertama kali Masjid Al-Jihad digunakan untuk shalat Jum’at. Khatib dan imam shalat Jum’at itu ialah KH Taufiqurrahman, mantan Sekjen Masyumi. Maka, masyarakat Cikarang heboh, apalagi keesokan harinya ceramah Sjafruddin dan kegiatan di Masjid Al-Jihad dimuat sebagai berita utama di koran milik Masyumi, Abadi. Rumput Keringpun Ada Manfaatnya

 

Pada 1984, Pak Natsir dan Ummi Nurnahar ditemani Sekretaris Pribadi Ramlan Mardjoned, berkunjung ke Yogyakarta. Berbeda dengan sejumlah tokoh yang jika ke Yogya bermalam di hotel atau penginapan, selama beberapa hari di Yogya, Pak Natsir dan Ummi bermalam di rumah Dr Ahmad Watik Pratiknya di kawasan Warungboto. Dr Watik dan istrinya, Yu Nung, sangat berbahagia rumahnya diinapi oleh Pak Natsir dan Ummi. Malam menjelang Pak Natsir kembali ke Jakarta, diselenggarakan silaturrahmi di rumah Dr Watik. Tokoh-tokoh cendekiawan Yogya yang hadir antara lain Saifullah Mahyuddin, A Syafii Maarif, M.Amien Rais, Chairil Anwar, Said Tuhuleley, dan Zulkifli Halim.

 

Dalam dialog, saya –yang saat itu tinggal di Yogyakarta dan hadir pada pertemuan–memberi tahu bahwa sebentar lagi Nurcholish Madjid yang sudah selesai studinya di Universitas Chicago, akan segera kembali ke tanah air. Mengingat Cak Nur pernah membikin heboh dengan pemikiran pembaruannya, saya bertanya kepada Pak Natsir, apa sikap kita?

 

Pak Natsir yang sedikit banyak kecewa oleh sikap Cak Nur di awal Orde Baru itu, saya duga akan memberi pernyataan yang cukup keras. Namun, di luar dugaan, dengan nada lembut Pak Natsir berkata: “Di dalam perjuangan, rumput keringpun ada manfaatnya. Apalagi seorang Nurcholish Madjid, doktor lulusan Chicago.” Saya melirik Zulkifli dan Tuhuleley. Kedua karib saya itu tersenyum. Di lain waktu, yakni Menjelang Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta pada 1990, Media Dakwah menurunkan laporan utama mengenai Muhammadiyah.

 

Laporan saya tulis berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai sumber: cendekiawan bebas maupun cendekiawan dan aktifis Muhammadiyah. Salah seorang narasumber, aktifis Muhammadiyah dan dosen di sebuah perguruan tinggi negeri, menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan sudah sangat lamban. Narasumber itu mengibaratkan kelambanan Muhammadiyah seperti “gajah gemuk”.

 

Setelah laporan utama selesai saya tulis, teman-teman redaksi Media Dakwah sepakat menjadikan “Muhammadiyah Bagai Gajah Gemuk?” sebagai tema laporan utama dan menjadikannya sebagai banner di sampul depan. Sesudah majalah terbit, saya serahkan beberapa eksemplar ke Pak Natsir.

 

Membaca tulisan di sampul depan, Natsir yang lembut, seketika meledak kemarahannya. “Apa ini? Apakah tidak ada kalimat lain yang lebih santun? Mengapa harus menista saudara seiman,” serentetan pertanyaan meluncur dari bibir Pak Natsir. Saya mencoba menjelaskan, tetapi cepat disergah.

 

“Jangan jelaskan sekarang. Beri penjelasan di dalam rapat Dewan Da’wah, besok.”

 

Esoknya, dalam rapat lengkap, sebagai penulis laporan utama, saya jelaskan semuanya. Setelah dicecar dengan berbagai pertanyaan oleh Pak Natsir, Pak Yunan Nasution, Pak Buchari Tamam, Pak Anwar Harjono, dan Bang Hussein Umar, alhamdulillah, penjelasan saya dapat diterima.

 

Dari rapat hari itu, sampai sekarang masih melekat dalam ingatan saya pesan Pak Natsir tentang etika berpolemik. “Dalam berpolemik, silahkan gunakan kalimat-kalimat yang tajam untuk melemahkan argumen lawan polemik, tapi jangan gunakan kalimat-kalimat yang kasar,” pesan Natsir sambil meminta seluruh redaktur Media Dakwah untuk membaca kembali polemik Sukarno dengan Natsir.

 

“Saudara-saudara bisa merasakan betapa tajamnya polemik kami, tapi baik Bung Karno maupun saya, tidak pernah menulis sesuatu yang kasar. Karena itu, baik saya maupun Bung Karno tidak pernah merasa sakit hati dengan polemik yang tajam itu,” katanya.

 

Ya itulah M Natsir, salah satu bapak bangsa, mantan perdana menteri pertama RI, Pemimpin Partai Masyumi yang ironisnya pada awal 1960-an partainya dibubarkan Sukarno tanpa pengadilan. Pada 17 Juli lalu Natsir yang menjadi penggagas terbentuknya NKRI berulang tahun. Di masa dia menjabat sebagai Perdana Menteri, pada saat itulah untuk pertama kalinya bendera Merah Putih berkibar di Markas Besar PBB di New York.

 

Allahumaghfirlahu warhamhu.

 

*Lukman Hakiem, peminat sejarah , mantan staf M Natsir dan Wapres Jusuf Kalla

 

Oleh: Lukman Hakiem* [GM/OB]

 

Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *