Opini Publik: Odah dan Pesta Demokrasi di Negeri Ini

Gabbarberita.com,Opini Publik – Rabu (15/2) kemarin akhirnya jamuan pesta demokrasi itu dihidangkan.  Kurang lebih empat bulan para ‘koki’ tersebut mempersiapkan apa yang akan mereka hidangkan yang sesuai dengan cita rasa masyarakat di daerahnya masing-masing. Tentunya setelah  dinyatakan dinyatakan lolos oleh KPU selaku event organizer ‘pesta’ ini.

“Pilkada adalah pesta demokrasi rakyat. Namanya pesta ya harus gembira. Jangan malah Pilkada memecah persatuan dan kesatuan bangsa-Jkw.” Begitu cuitan Presiden Jokowi lewat akun twitternya.

Pilkada serentak tahun 2017 ini memang semarak, bahkan daerah-daerah yang tidak ikut melaksanakan pilkada pun mendapatkan ‘semarak’nya. Setidaknya mereka kebagian libur nasional. Tahun depan mungkin akan lebih ‘menggema’ lagi. Lalu di tahun 2019 ada Pileg dan Pilpres yang mungkin lebih menohok lagi.

Inilah dampak yang terjadi pasca reformasi. Runtuhnya orde baru telah membuka keran demokrasi yang sempat tersumbat selama lebih dari tiga dekade.  Pasca runtuhnya orba hampir dua dekade demokrasi di negeri  berkembang dengan sedemikian pesatnya.

Di kalangan kaki lima, perbincangan masalah politik mendominasi  obrolan-obrolan di warung kopi. Di kalangan bintang lima tentu lain lagi ceritanya, berinvestasi pada beberapa partai politik ataupun calon legislatif maupun eksekutif seolah menjadi tren baru kaum jetset negeri ini. Modal kampanye yang mencapai ‘em-em-an’ membuat partai politik sulit untuk menampik investasi dari para pemilik modal ini.

‘Suara rakyat adalah suara Tuhan’, ‘satu orang satu suara’,’ rakyat berkuasa’. Tagline-tagline demikian beserta janji kampanye  lazim didengungkan dalam alam demokrasi dewasa ini. Walaupun terkadang janji-janji tersebut hanya sekedar hoax.

Namun dibalik ingar bingarnya pilkada serentak kemarin, dibalik cuitan presiden tentang pesta demokrasi yang harus gembira. Ada seorang wanita yang seorang janda yang baru saja ditinggal mati suaminya.

Odah seorang wanita berusia empat puluhan yang KTPnya pun belum E-KTP, seorang warga pribumi dari Kampung Salarema Desa  Jayamukti  Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya.

Bisa jadi Odah bukan siapa-siapa di mata para pejabat dan calon pejabat di negeri ini. Ia hanyalah seorang istri dari seorang lelaki bernama Iji dan Ibu dari tiga belas orang anak. Dan Iji yang sehari-hari bekerja membuat sapu injuk sekarang riwayatnya pun sudah selesai.

Di dalam gubuk bambu yang hanya berukuran 16 meter persegi, itulah Odah tinggal. Bersama enam anaknya yang masih bocah, odah mencoba menerawang beberapa hari kebelakang.

Kala itu, ia dan almarhum suaminya sedang bercengkrama bersama anak-anaknya. Tiba-tiba belasan  pemuda berteriak memanggil nama suaminya. Lalu menyeret Iji  sambil dipukuli hingga tidak berdaya.

Suaminya berteriak minta ampun ujar Odah. Tapi nafsu para pengeroyok ini benar-benar membuat mereka kalap. Odah dan anak-anaknya pun pasrah menyaksikan suami dan ayah mereka meregang nyawa tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Saya tidak terima suami saya diperlakukan seperti binatang. Saya ingin pelaku diadili silahkan pak polisi bagaimana,” kata odah dengan logat nyunda.

Nyawa Iji sama dengan dua ekor ayam kate yang diduga dicurinya. Ia harus meregang nyawa tanpa pernah diadili sebagaimana mestinya.

Menurut Odah sebenarnya ayam tersebut sudah akan dikembalikan, suaminya hanya meminjam ayam tersebut untuk anak bungsunya yang kebetulan suka sekali dengan ayam kate tersebut.

Bayangan kematian Iji  tidak akan begitu saja hilang dari kepala Odah dan anak-anaknya. Bersamaan dengan mimpi buruk itu, kini mereka harus menyongsong nasib yang tidak mudah apalagi tanpa kepala keluarga.

“Anak-anak masih kecil, kini saya sendirian dan tidak punya apa-apa,” ujarnya sambil terisak.

Urusan Odah tentu berbeda dengan urusan para pejabat dan calon pejabat negeri ini. Siapa sih Odah, penting juga modal kampanye yang sudah dikeluarkan.

Lebih penting lagi urusan penghinaan lambang negara. Dalam hitungan jam polisi sudah bisa mengamankan pemuat lafadz La Ilaha Ilallah dalam bendera merah putih. Di tengah banyak orang pula.

Bukankah katanya di negara demokrasi suara rakyat itu suara Tuhan. Bukankah Odah juga rakyat negeri ini walaupun KTPnya belum E-KTP.

(MgKey)

 

 

 

 

 

 

 

Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *